//
you're reading...
Uncategorized

Cerita Hijau #2 : Dilema Plastik Pengusaha Muda

Ini adalah curahan hati seorang pengusaha muda yang bergerak di bidang onlineshop, usaha jual beli barang lewat dunia maya. Nama lengkap penulisnya Niken Paramita Widhyasa (@niken_paramita), mahasiswa semester akhir yang masih bergelut dengan TA. Tulisannya ini adalah sebuah gambaran nyata tentang kesulitan yang dihadapi olehnya sebagai seorang pengusaha muda perihal diet kantong plastik yang sekarang masih “sembunyi-sembunyi” dikampanyekan oleh tempat-tempat perbelanjaan di kota. Dalam hatinya, ia ingin melakukan diet ini di usahanya yang sudah berjalan beberapa lama. Namun, ia kemudian urung karena diet ini ternyata belum sesehat yang ia kira: belum mudah, belum murah, apalagi ketika lawannya adalah besarnya ongkos produksi, momok bagi pengusaha manapun. Ia putus asa karena rasa bersalahnya pada lingkungan belum menemukan penyelesaian yang real, yang memihak dua belah sisi, yaitu pengusaha dan lingkungan. Jadi, kalau Anda merasa dapat membantunya dan punya ide untuk penyelesaian masalanya, silahkan bagi saja disini. Tulis ide Anda, lalu kirimkan ke suaramalanguntukkamu@gmail.com. Ide yang sekiranya bagus, akan kami share di blog, pula twitter. Siapa tahu ide Anda tak hanya dapat membantu Niken, tapi juga pengusaha lainnya. Mau kan?

Hmm.. Saya diminta @omankomink untuk mengeluarkan pendapat tentang diet plastik. Yaa, diet plastik di mata pedagang baju yang notabene dekat dengan plastik (plastik pembungkus). Diusaha ini baik online maupun offline saya banyak menggunakan plastik.

  1. Baju baru datang dibungkus plastik bening satu persatu yang kondisi plastiknya sudah lusuh terkena proses package.
  2. Baju laku online – plastik pembungkus yg lama saya ganti dengan plastik pembungkus baru yang licin (biar kelihatan oke) baru dibungkus lagi dengan tas plastik bergambar lucu-lucu yang eye cacthing. Dikirim ke JNE, dan oleh JNE dibungkuslagi dengan plastik berlogo JNE.
  3. Baju di offline – plastik pembungkus lama sudah dienyahkan. Dipake untuk ‘sumpelan’ tas dagangan . tapi untuk packaging orang yang beli saya memakai plastik 3 ukuran dengan motif lucu-lucu. Kecil untuk pernak-pernik macam cincin,kalung,gelang. Ukuran sedang untuk pembelian baju 1-2 pcs. Ukuran besar untuk  pembelian >3.

Sudah tau konsumsi plastik saya kan? Nah banyaaaaaakkkk sekali. Hukum saya karena saya termasuk penyumbang besar “kesumukan” kota malang  ini 😀

Next questions pasti: KENAPA NGGAK MENGGANTINYA DENGAN TAS KERTAS/PEMBUNGKUS KERTAS?

Sekarang balik saya bertanya: Tahukah kamu berapa cost product penggunaan tas plastik dan tas kertas?

Kalo belum tau mari saya beri hitungannya secara gampang:

1.       Alasan Ekonomis

Jenis Harga/pack Isi Harga/pc
Tas plastik kecil 7000 50 140
Tas plastik sedang 17500 50 350
Tas plastik besar 22000 50 440

Kapan hari saya sempat beli tas kertas di daerah embong Arab Malang:

Tas kertas coklat polos uk. Sedang (muat 1-3pcs baju) @Rp.880,- ditambah sablon 1 warna jatuhnya @Rp.1100,-

Saya juga beli tas kertas UK. Besar muat untuk sampai 10 baju  harganya Rp.65.ooo/10pcs jadi @Rp.6500. So WOW too….

Hmm ini saya kurang tahu ya, dapetnya kemahalan atau nggak. Sempet nanya ke tetangga-tetangga toko yang make tas kertas harganya memang segitu.

(pasti) ditanya lagi kenapa nggak pake tas spunbound?

Nah perhitungannya 1 pc tas spunbound kecil (muat 1-2pcs baju) @2500 ini sudah paling murah.

2.     Alasan Keamanan

Setelah perhitungan ekonomis diatas ada lagi alasan kenapa belum bisa beralih ke kertas/spunbound. Dari sisi keamanan tas plastik jauh lebih aman dari pake kertas/kain. Kenapa begitu, karena plastik waterproof. Apalagi untuk packaging pengiriman, wajib hukumnya diplastiki biar kalo paket kehujanan bajunya nggak basah atau bahkan rusak. Kalo ada paket lain yang isinya cairan membahayakan yang bisa merembes juga tetep aman, karena baju udah diplastiki.

3.     Alasan subyektif

Entah kenapa dari testimonial customer saya (beberapa) repeat order hanya karena packaging saya yang lucu. Ya itu, motif tas plastiknya lucu-lucu. Memang tiap bulan saya ganti2 motif tas nyesuaiin tema bulannya. Pas Februari tasnya lope2, bulan lalu leopard dll.Kalo di store, orang sering request make tas yang itu aja mbak, sambil nunjuk tas plastiknya. Kalo udah ganti motif, yaa bagusan yang kemarin tasnya 😀

Kapan itu saya sempet nongkrongin booth temen saya yang jualan jajanan klapertaart, tante maya namanya. Nah tante maya ini make kertas untuk packagingnya. Saya Tanya kenapa alasannya: biar kelihatan klasik, sesuai jualannya walaupun harganya mahal. Lebih lanjut lagi, pesennya minimal 2000pcs  langsung saya hitung jatuhnya @Rp.770,- itu tas kecil (seukuran kantongnya mc Donald) dan tiap orang beli minta tas kresek lagi karena bilangnya repot bawanya K atau ada yang bilang:takut tasnya jebol. Intinya walau make tas kertas, customers tetep minta tak plastik lagi.

Sempet 3 bulan saya make tas plastik yang katanya gampang terurai, itu lho tas sekarang dipake alfamidi/alfamart. (Katanya) tas plastik dari bahan ramah lingkungan. Tapi setelah stock habis beli lagi stocknya nggak ada. Akhirnya balik lagi ke tas plastik biasa. Kelemahan lain tasnya gampang putus-sobek.

Nah temen-temen lain ada solusi nggak untuk curhatan saya ini?

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Galeri Foto SUMUK

%d bloggers like this: