//
you're reading...
Uncategorized

Cerita Hijau #3: Anggap Saja JNE Khilaf

Beberapa hari yang lalu, kalau tidak salah hari Jumat, kami telah membagikan cerita (kita bilang saja curahan hati) dari seorang pengusaha muda di bisnis online shop bernama Niken Paramita, yang mengaku masih kesulitan meminimalisir penggunaan plastik di usahanya (kita sebut saja Niken ini susah diet plastik). Ia menjabarkan alasannya menjadi tiga kategori yaitu alasan ekonomis, yang mana menyangkut ongkos produksi, alasan keamanan, dan alasan subjektif, yang mana menyangkut permintaan konsumen (untuk lebih lengkapnya, silahkan baca disini). Ketika kami membaginya lewat twitter dan blog, kami menerima respon dari beberapa orang teman yang katanya punya saran. Salah satu dari beberapa itu adalah @amimimii atau kita panggil saja dia ami. Ami bersedia mengirimkan sarannya lewat surel agar lebih lengkap. Berikut saran yang Ami kirimkan pada kami, langsung pada malam cerita Niken pertama kali dibagi. Mari kita hayati.
…..

ImageAku juga pedagang online shop. Baru usaha sekitar 3 bulanan. Mulai dari awal aku memang packaging menggunakan kertas. Untungnya jualan memang tak seberapa tapi memang sudah niat dari awal packaging pakai kertas dan alhamdulillah customer belum ada yang komplain.

Saran buat niken :
Mending kamu cuek saja sama kata-kata customer kamu yang minta pakai plastik. Memang sih pelayanan it penting, tapi kalau kamu bungkus atau mengemas barang secara menarik, customer pasti suka dan membuat “itu” jadi identitas kamu.

Kalau aku jualan, biasanya aku bungkus kertas coklat dan itu aku bikin jadi kantong. Harga plastik sama kertas memang jauh, tapi kan kertas bungkus ketebalannya beda-beda. Nah, untuk meminimalisir pengeluaran, pakai saja kertas bungkus yang polos tapi harga miring yang biasanya dijual di toko kertas.

Perhitungannya:
Isi 50 lembar harganya sekitar 30.000
Nah, 30.000 bagi 50 = 600 rupiah per lembar. Aku biasanya satu kertas besar aku bagi 4 jadi ukuran sedang.
600 bagi 4 = 150 rupiah
Kalau barangnya berat baru pakai kertas bungkus yang tebal. Memang ribet karena harus bikin kantong dulu, tapi kalau ada waktu luang ya sempatkan saja buat yang ukuran sedang 🙂

Nah, kalau untuk kirim paket, prnah nih aku satu kali kirim pakai bungkus kertas, tapi kertas coklat yang tebal. Kalau di fotokopian, satu lembarnya 1500 rupiah.
Nah, itu diberitahu sama JNE kalau luarnya harus pakai plastik. Padahal kan dari JNE juga dikasih plastik tuh.. -__-

Ya gunakan plastik seperlunya saja. Aku biasanya pakai plastik klo buat kirim barang aja tapi tetap aku bungkus sama kertas meski aku bungkus pakai plastik. Dan saat ini yang akan saya lakukan untuk mengirim paket adalah dengan bungkus koran + kertas bungkus coklat. Mungkin kamu bisa mencobanya niken.

Selamat mencoba!

O,ya. Bersamaan dengan Ami mengirimkan foto kantong kertas hasil karyanya, ia pun sedikit menambahkan keterangan di emailnya. Seperti sebuah perhitungan detil tentang harga kertas dan sebagainya. Berikut isinya:

Kertas warna coklat harganya Rp1500/lembar di fotokopian. Bahan kertasnya bagus dan lebih tebel juga tidak gampang robek. Kalau beli di toko keras biasanya 1250/lembar. Kalau beli banyak mungkin sekitar (aku lupa harga) 40-50ribu/50 lembar di pasar besar.
1 lembar kertas bisa jadi 4 kantong ukuran sedang, atau 2 kantong ukuran besar.
1 kantong ukuran besar bisa muat 2 tas dan 2-3 baju (tergantung tebelnya baju sama pintar-pintar ngatur aja)

Kertas bungkus warna coklat buram harganya sekitar 27-30rb/50lembar. Dijual di toko kertas. Kalau di fotokopian nggak dijual. Nggak begitu tipis tapi lumayan lah. Bagus juga buat bungkus,cuman mudah robek kalau kebanyakan muatan.
1 lembar kertas bisa muat sampai 4 kantong ukuran sedeng
1kantong bisa muat 2- 3 baju tergantung tebal baju juga.

Bikin kantong cukup pakai cutter sama isolasi atau lem buat perekatnya
….

Nah, bagaimana menurut teman-teman ide ini? Apakah penggantian kantong plastik menjadi kantong kertas dapat serta merta menyelamatkan lingkungan?
Sebenarnya, ada yang menarik disini. Saat kami membagi cerita Niken di dunia maya, Niken sempat menuliskan status begini (ia menuliskannya tanpa tahu tentang saran ami, karena saran ami belum kami bagi hingga malam ini, sehingga statusnya ini bukan sebagai respon atas saran ami)

Image

Kertas memang memiliki waktu urai yang lebih sedikit dari kantong plastik. Kertas hanya butuh 2,5 bulan untuk terurai sedangkan plastik membutuhkan 10-20 tahun (silahkan baca disini untuk tahu waktu urai beberapa bahan yang lain). Namun, tentu saja penggantian kantong plastik menjadi kantong kertas tidak serta merta dapat sepenuhnya diandalkan untuk menjaga bumi. Ini logis saja. Permasalahan lingkungan di bumi ini lebih kompleks dan lebih banyak. Maka dari itu, butuh elemen masyarakat lain untuk membantu pengusaha seperti Niken dan Ami untuk meminimalisir konsumsi karbon. Butuh bantuan dari “tokoh” lain dalam membantu kegiatan jual beli ini lebih sehat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Siapakah itu? Di statusnya selanjutnya, di malam yang sama, sebenarnya Niken sudah menjawabnya.

Image

Yup benar! “Tokoh” lain yang mampu membantu para pengusaha untuk diet plastik adalah konsumen. Niken sempat menyebutkan di alasan ketiga bahwa konsumen menjadi alasan lainnya untuk susah diet plastik. Nah, kalau konsumennya sendiri yang menolak plastik, pasti kegiatan jual beli ini akan lebih ramah bukan?

Berhubungan dengan peran serta konsumen dalam diet plastik ini, kami meminta seorang konsumen yang telah melaksanakan diet plastik dengan rutin untuk menulis #ceritahijau edisi 4. Penulisnya bernama Melia. Dalam ceritanya yang ia kirimkan kepada kami minggu lalu ia bercerita banyak tentang pengalamannya menerapkan diet plastik sehari-hari. Mulai dari “kejar-kejaran” dengan tukang krupuk, sampai ceritanya tentang mitos kantong plastik di masyarakat sekitarnya. Bagaimanakah Melia menghadapi “kejar-kejaran” dengan tukang krupuk dan apakah mitos tentang kantong plastik yang Melia ketahui?

Kami akan membagi cerita Melia nanti. Untuk hari dan jam tepatnya, akan kami beritahu kemudian. Jadi mari diet plastik! Bali saja sudah mulai (infonya bisa baca disini), Malang ayo ikutan!

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Galeri Foto SUMUK

%d bloggers like this: