//
you're reading...
Uncategorized

Cerita Hijau #4: Tas Kresek Perawan

Ada pertanyaan menarik yang muncul saat kami mempublikasikan cerita hijau edisi kedua dan ketiga minggu lalu tentang pengusaha muda di bidang onlineshop yang memilih caranya sendiri untuk melakukan diet plastik (bisa dibaca disini), yaitu dengan mengganti plastik dengan kantong kertas buatan sendiri. “Bukannya sama aja ya kalo ganti plastik ke kertas? kan kertas pake pohon juga? bukannya masa tumbuh pohon juga sangat lama?”. Ini benar. Penggunaan kertas memang bukan jalan yang terbaik, kalau kita berbicara mengenai pelestarian lingkungan alam secara keseluruhan. Namun jika dilihat dari sisi pengusaha, penggantian kantong plastik menjadi kantong kertas adalah usaha yang paling ramah lingkungan yang bisa dilakukan. Mengapa? Tentu saja, karena kebutuhan akan packaging untuk barang dagangan masih besar. Siapa yang menciptakan kebutuhan tersebut? ya konsumen. Di Indonesia, masih banyak konsumen yang menganggap bahwa barang (seperti pakaian) tanpa packaging (telanjang, tanpa bungkus) atau kantong plastik saat transaksi, sama dengan penghinaan. “Ndak ilok,” katanya. Jadi, jika ingin pelestarian lingkungan di bidang jual beli ini dilakukan sepenuhnya, maka perlu juga partisipasi dari konsumen. Caranya? sederhana saja: tolak packaging/kantong plastik, utamakan fungsi, dan gunakan tas belanja sebagai pengganti. Susah? Ribet? Tidak kok. Buktinya cerita dari Melia berikut ini malah membuat hidup Melia lebih seru. Ndak percaya? Monggo dibaca 🙂

 …..

Heh, gak ilok, perawan kok nggowo belonjoan gak dikreseki!” ujar Mbak Fit sembari mengulurkan sebuah kantong plastik berwarna hitam.

Saya mengamankan sebungkus mie instan dan roti sisir ke dalam dekapan. Bukan karena belum bayar dan mau kabur, tapi karena saya menolak kresek yang disodorkan Mbak Fit, pemilik toko kecil di dekat rumah yang sering saya singgahi untuk sekedar membeli mie, roti, telur atau jajanan anak SD.

Berkali-kali saya belanja di toko Mbak Fit, berkali-kali pula kami terlibat percekcokkan kecil karena sebuah tas kresek. Menurut kepercayaan beliau, dan mungkin orang Jawa pada umumnya, gadis atau perawan itu tidak boleh membawa barang belanjaan tanpa kantong plastik, atau mungkin lebih tepatnya tidak boleh terlihat orang lain barang apa yang ia beli. Menurut beliau, penggunaan tas kresek ini memiliki korelasi dengan lamaran nikah. Entah, saya juga tidak tahu di mana letak korelasi keduanya. Ada yang tahu?

Mitos, memang butuh usaha ekstra untuk bisa memberikan edukasi pada orang-orang yang masih memegang teguh perkara “ilok” dan “gak ilok”. Tapi ketika saya hendak menjelaskan pada Mbak Fit kenapa saya menolak kresek, saya selalu mengurungkannya. Rasanya kok seperti menjelaskan alasan kepada Nenek saya kenapa menggunakan softener 1x bilas yang bisa menghemat air, karena beliau lebih puas membilas cucian dengan air sebanyak 3x. Ketika saya memikirkan anak-anak Tanzania di tahun 1984 yang berjalan sejauh 14-16 km untuk menggali sungai yang mengering demi sepanci kecil air bercampur lumpur, beliau hanya berujar “Air dari sumur banyak, ngapain ngirit-ngirit, ya kalo di kota, air harus beli, lha ini gratis.”

Memang, alangkah lebih baik kalau saya tetap menjelaskan kenapa setiap kali belanja di toko Mbak Fit, saya selalu menolak kresek pemberiannya. Saya sudah menyerah sebelum berusaha untuk menjelaskan pada beliau bahwa butuh waktu 1000 tahun bagi tanah untuk mengurai plastik. Padahal edukasi yang bersifat kontinyu ini sangat diperlukan untuk meningkatkan awareness banyak orang, sehingga perilaku “diet kantong plastik” tidak hanya berakhir pada diri kita sendiri, melainkan juga menular pada orang lain.

Mbak Fit pun sudah hapal dengan kebiasaan saya, sehingga kalau saya belanja di tokonya, kami selalu adu cepat. Saya buru-buru mengamankan belanjaan sementara beliau buru-buru mengambil kantong plastik. Dan saya selalu menang, hehe.. Cuma satu kelemahan saya, kalo lagi beli krupuk! Saat itulah Mbak Fit menang sambil tertawa girang. Tapi kemarin sore saya mendapat ide. Kalau beli krupuk di tokonya Mbak Fit, sekalian beli banyak dan bawa toples gede dari rumah saja 🙂

Beberapa tahun terakhir saya memang berusaha untuk meminimalisir penggunaan kantong plastik, atau istilah yang sekarang sedang trend, diet kantong plastik. Seperti yang sempat saya tuliskan sebelumnya, membutuhkan waktu 1000 tahun bagi tanah untuk bisa mengurai plastik. Dan faktanya, tas kresek merupakan produk daur ulang yang riwayat penggunaan sebelumnya tidak diketahui. Bisa saja kresek tersebut bekas wadah pestisida, limbah rumah sakit, kotoran hewan atau manusia, limbah logam berat, dan sebagainya.

Sebisa mungkin saya mencoba menghindari penggunaan kantong plastik. Beberapa lokasi yang paling sering saya tolak kantong plastiknya tanpa harus bawa shopping bag sendiri adalah toko accecories, minimarket dan toko buku. Kalo cuma sekedar beli gelang atau cincin, gak perlu deh dibungkus plastik, masukin tas aja beres. Kalo ke minimarket untuk belanja beberapa item juga langsung masukin tas aja. Kebetulan hampir setiap hari saya gowes, jadi selalu pake backpack yang bisa muat banyak barang. Nah, hal yang sama juga berlaku kalo lagi beli cilok, ga usah pake kresek, masukin tas aja, toh udah ada plastiknya ini.

Tiap kali ke toko buku saya juga selalu berusaha menolak kantong plastik. Tapi nyatanya tidak semua toko buku bisa kompromi dengan hal ini. Ada yang mengharuskan penggunaan kantong plastik meski buku yang dibeli hanya satu, alasannya untuk mempermudah penjaga mengenali konsumen yang sudah atau belum membayar buku. Nah, kalau sudah begini solusinya ya bawa tas belanja sendiri.

Selain berusaha mengurangi penggunaan plastik, saya juga mencoba menggunakan kembali barang-barang untuk menggantikan kantong plastik. Shopping bag atau tas belanja, ini adalah senjata yang harus saya bawa ketika belanja, selain dompet tentunya. Pernah saya tidak membawa shopping bag dan terpaksa menggunakan kresek dari swalayan, rasanya kok berdosa. Mulai dari saat itu saya selalu menjadwalkan waktu belanja agar bisa menyiapkan shopping bag untuk dibawa serta.

Shopping bag saya bukan seperti yang sekarang banyak diproduksi, dengan desain atau gambar catchy dan warna yang atraktif. Inilah 2 shopping bag yang sering menemani saya belanja. Semuanya saya dapat secara cuma-cuma, yang biru itu oleh-oleh dari Yogyakarta, saya menyebutnya folding bag karena memang bisa dilipat jadi bentuk setengah lingkaran. Sedangkan yang hijau itu pemberian kasir swalayan yang iba melihat shopping bag saya terlalu penuh. Ada satu lagi shopping bag buluk yang juga sering saya gunakan, bonus dari deterjen, tapi saya lupa menyimpannya di mana, hehe..

Sebenarnya bisa saja saya membeli shopping bag yang lebih keren, tapi saya merasa sayang dengan tas-tas ini. Rasanya tidak adil bagi mereka kalau hanya dionggokkan di laci dan tidak dimanfaatkan. Membayangkannya saja saya tidak sanggup. Ah, saya memang terlalu perasa pada benda mati, hehe.. Lebih baik memanfaatkan apa yang ada daripada menghabiskan uang untuk membeli gaya, padahal yang paling dibutuhkan adalah fungsi.

Bukan lantas saya tidak suka dengan anak-anak muda yang bergaya dengan shopping bag aneka warna, hanya saja saya lebih suka memanfaatkan yang saya punya. Dulu waktu masih nganggur, saya juga pernah mencoba merintis brand tas sendiri, dan salah satu jenis produknya adalah hand made shopping bag sulam ini. Tapi setelah saya pikir-pikir, kok rasanya ga enak memanfaatkan isu lingkungan untuk mengeruk keuntungan pribadi. Akhirnya usaha itu tidak saya lanjutkan, di samping saya sudah mendapat pekerjaan baru juga, sih.

Memanfaatkan tas yang ada saya pikir adalah cara yang paling mudah dan murah, yang bisa sekaligus menekan gaya hidup konsumtif. Jangan lupakan tas spunbond dari butik atau bahkan dari souvenir nikah dan selamatan. Berbagai warna, motif dan ukuran bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Yang kecil bisa dipakai waktu belanja buku, yang agak besar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Beberapa waktu yang lalu teman saya memberikan tas spunbond hitam yang tidak terpakai. Hmm.. bisa muat untuk 3-5 buku ini kayaknya. Yuk, bongkar-bongkar laci dan lemari, siapa tahu ketemu harta karun, tas untuk belanja! 😉

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Galeri Foto SUMUK

%d bloggers like this: