//
you're reading...
Uncategorized

East Java Artivism

Image

life is short, the art long” – Hippocrates

Ya, hidup itu pendek, yang panjang adalah seni. Berdasarkan atas hal itulah, maka Malang SUMUK, bekerjasama dengan 350.org, 350indonesia.org dan Gimbal Alas Indonesia mengadakan workshop bertajuk East Java Artivism. Sebuah kegiatan yang mencoba menyilangkan seni dan aktivisme lingkungan hidup dengan harapan beraktivisme bisa jadi lebih menyenangkan. Sehingga, solusi-solusi yang tercipta terkait kebutuhan perbaikan masalah lingkungan nantinya akan lebih beragam dan kreatif. Kalau sudah begitu, maka harapan selanjutnya adalah tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan karena kreativitas tak punya batasan.

Tapi sebelum kami bercerita lebih lanjut tentang isi kegiatan Malang Artivism, pasti banyak yang bertanya-tanya: apa itu artivism?

Kata “artivism” adalah gabungan dari kata “ART” dan “ACTIVISM”. Filosofinya sederhana saja: bagaimana aktivisme lingkungan dilakukan sambil berkesenian. Di Indonesia, salah satu acara yang pernah melibatkan kegiatan artivism di dalamnya adalah acara SWITCHCAMP. Sebuah kegiatan bertema global powershift yang diadakan oleh organisasi 350indonesia.org pada tanggal 19-22 Maret 2014 silam di Kulonprogo, Yogyakarta. Acara ini adalah acara lanjutan dari lokakarya internasional bertema sama yang diadakan di Istanbul, Turki.

Artivism masuk ke dalam SWITCHCAMP sebagai salah satu track atau kelas pilihan peserta camp selain creative resourcing, media and communication, dan Non Violent Direct Action (NVDA). Pada saat itu, kelas artivism difasilitasi oleh Nova Ruth, seorang seniman dari Malang. Kaitannya yang erat dengan seni membuat kelas artivism menjadi kelasyang paling menarik kala itu.

Tapi, pada dasarnya kelas artivism saat itu bukan hanya tentang melukis, menggambar, atau bernyanyi-nyanyi. Lewat artivism, peserta diajak belajar beraktivisme lewat seni tanpa mengganggu kepentingan orang lain. Peserta juga diajak belajar menggunakan kisah-kisah yang kental dengan kebijakan lokal untuk menyampaikan pesan-pesan lingkungan ke masyarakat, agar pesannya lebih mudah diterima. Bukan hanya itu. Kelas artivism saat itu pun mengajarkan tentang toleransi, saling menghormati, dan kerjasama. Intinya, di kelas artivism saat itu kami belajar bagaimana saling berkolaborasi untuk menciptakan solusi atas permasalahan lingkungan dari perspektif seni. Menyenangkan bukan?

Kini, artivism yang pernah dilakukan di Yogyakarta itu, diadakan di Jawa Timur, tepatnya di Malang, dengan nama East Java Artivism. Fasilitatornya tetap Nova Ruth. Tapi, Nova Ruth tidak sendirian. Kami mengajak pula beberapa seniman dari Yogyakarta, Bandung, Salatiga, juga Malang untuk ikut berpartisipasi.

Dari Yogyakarta ada Taring Padi, sebuah komunitas seni yang memiliki misi utama untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang sejarah Indonesia yang sebenar-benarnya lewat seni cukil kayu. Selain Taring Padi, dari Yogyakarta juga ada Digie Sigit. Seorang seniman stensil radikal yang dikenal pula menjadi bagian dari Teknoshit di tahun ’98 sampai sekarang.

Dari Bandung, ada Deugalih. Seorang seniman asal Indramayu yang rajin menciptakan dongeng-dongeng baru yang kental dengan nilai-nilai kebaikan lokal. Ia juga menciptakan lagu-lagu apik untuk melengkapi dongeng-dongengnya. Dari Salatiga, ada Titi Permata, salah satu founder Festival Mata Air. Sebuah festival yang mengangkat isu privatisasi air bersih di Salatiga. Festival ini adalah festival besar karena mampu merangkul masyarakat secara luas, sekaligus pemerintah daerah. Tak heran, jika sukarelawan festival ini datang pula dari berbagai negara.

Dan terakhir, dari Malang, ada Yon Gondrong. Selain berkegiatan dalam ∑One Man Band (ia memanggul kombinasi berbagai alat musik dan memainkannya sendirian), ia juga pintar berkebun. Yon bahkan menjual tanaman di halaman rumahnya di Denpasar, Bali. Tak cuma Yon. Dari Malang juga  ada Zhizaa. Solo rapper  dan juga salah satu personil dari APA Rapper ini sempat menularkan hits untuk para komunitas bola kota Malang, yaitu “Salam Satu Jiwa”.

Dengan mengundang pemateri-pemateri ini, kami berharap East Java Artivism dapat menjadi wadah tukar ilmu antar seniman dan aktivis Indonesia secara global. Jadi, bagi Anda yang berusia 18 – 25 tahun, memiliki kepedulian atas masalah lingkungan dan ingin berpartisipasi dalam kolaborasi seni ini, mari ikut dan mendaftar.

Isi formulir pendaftaran disini http://bit.ly/S9WV13 paling lambat tanggal 15 Mei 2014.

Kami tunggu.

Salam,

 

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Galeri Foto SUMUK

%d bloggers like this: